Tuesday, November 9, 2010

berbuat baik dulu sebelum menyuruh orang lain

gurudidkanak.jpgGURU mendidik anak untuk jadi bijak, sehingga mereka menemukan jalan terang.
Lihat dengan hati karena pandangan mata selalu gelap, tak mampu menilai hakikat
MATA suka memandang dan mempengaruhi hati agar hukuman terhadap orang yang dipandang.Walaupun baru sekali bertemu, ada yang sudah bijak menilai orang lain semata-mata dengan dasar prasangka buruk.
Orang itu jahil, si polan fasik, tetangga kamu sombong, teman kamu penipu, suami kamu pembohong, beliau yang dihormati itu sebenarnya lalim, saudara kamu munafik, khianat, penjahat, pembajak hak orang dan segala kejahatan hanya milik mereka yang hadir dalam kehidupannya. Itulah mata jahat yang bersatu dengan hati busuk.
Tetapi kadang-kadang mata dan hati bisa tertipu oleh rupa paras dan perilaku orang yang dilihatnya. Baru sekali duduk minum dan mendengar tutur bicara halus dan ide bernas, terus percaya kepada orang di hadapannya itu umpama malaikat.
Semua baik, tidak ada cacat dan celanya. Akhirnya tertipu oleh foto palsu yang dilihat dengan kacamata suram. Bertolak dari kebaikan dan keburukan yang dilihat dalam mata zahir maka manusia terus mencari jalan tengah agar dia dapat membuat penyesuaian dengan lingkungan secara aman.
Sikap terbaik ketika menjalin hubungan dengan orang lain adalah ambil manfaat dari kebaikannya saja, usah peduli dengan aib orang itu dan berhati-hati agar diri tidak dimanipulasi. Namun begitu kita merasa diri diperhati tanpa mau mengaku bahwa kita juga suka memperhatikan orang lain.
Sesungguhnya suka memperhatikan ini dapat memberi dampak positif dalam diri yaitu dengan syarat, perhatian itu hanya kepada mutiara kebaikan saja. Adapun keburukan orang lain, cukuplah dijadikan perbatasan tanpa disertai celaan kepada orang itu karena tiada siapa yang sempurna di dunia ini.
Jika setiap orang mengenal dirinya sendiri dengan sedalam-dalamnya niscaya tidak seorangpun tergamak menghina keaiban orang lain karena dia masih melihat kelemahan yang banyak dalam dirinya sendiri. Alangkah baiknya jika kita berkonsentrasi kepada kelebihan dianugerahkan Allah kepada orang lain untuk mengambil manfaat darinya.
Antara manfaatnya adalah:
  • Menghilangkan rasa ujub pada diri sendiri.
Hati manusia bervariasi, ada kala hari ini baik, esok pula belum tentu, hari ini angin yang bertiup itu sepoi-sepoi bahasa, namun tidak mustahil dapat menjadi angin topan yang mengganas.
Oleh itu, semua penilaian tentang seseorang itu sifatnya relatif, mungkin berbeda seperti pernyataan Rasulullah SAW yang mengakui bahwa manusia diciptakan dengan hati yang berbolak-balik sehingga beliau mengajarkan umatnya agar berdoa dengan sabdanya yang bermaksud:
"Ya Tuhan yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu." (HR. Imam al-Tirmizi dan Imam Ahmad)
Manusia adalah makhluk yang relatif berubah, sehingga tidak dapat dinilai secara mutlak. Jika kita ingin mengambil manfaat dari orang lain maka ambillah teladan dari ketika dia berada di atas puncak kebaikannya.
Jangan pernah melihat ketika dia jatuh, lemah, berdosa, penuh aib dan cela karena jika kita suka melihat saat dia di bawah maka rasa ujub akan menguasai diri. Bisa jadi kita akan berkata: "Alangkah baiknya agamaku, amal dan ilmuku, keluarga dan kehidupanku jika dibanding dengan dirinya! Betapa buruk perangai orang itu, lalim sungguh tangannya, tamak dan pelit sifatnya, kasar dan kurang ajar perangainya, tidak ada kebaikan langsung dibandingkan diriku!
  • Menyuntik semangat berlomba-lomba ke arah kebaikan.
Orang yang suka memperhatikan potensi saudaranya tidak seharusnya melahirkan rasa dengki, cemburu dan iri hati. Hanya orang yang berhasil saja yang dapat menjadikan kehebatan potensi orang lain sebagai inspirasi dan penyuntik semangat untuk lebih berhasil.
Alquran menyindir perangai orang yang suka mendengki terhadap kehebatan orang lain seperti Rasulullah SAW pernah menjadi korban kedengkian mereka. Firman Allah:
"Orang kafir dari Ahli Kitab dan orang musyrik tidak suka kiranya diturunkan kepadamu sesuatu kebaikan dari Tuhanmu. Padahal Allah berhak menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah jugalah yang memiliki karunia yang amat besar. "(Surah Al Baqarah, ayat 105)
Ayat itu memperingatkan diri kita yang mungkin sedikit banyak menyimpan dengki.Betapa seseorang itu menjadi hamba yang membangkang atas keputusan Allah memilih orang lain untuk diberi penghargaan.
Maka lihatlah dengan hati karena pandangan mata itu selalu gelap tidak mampu melihat hakikat, sedangkan hati yang suci suka memandang dengan pandangan Tuhannya. Apa yang baik menurut Allah itulah yang baik baginya dan sebaliknya.
  • Sumber inspirasi, muhasabah diri.
Siapapun bisa menjadi sumber inspirasi. Jangan pedulikan keburukan orang di sekitar kita dan terus perhatikan kebaikan mereka. Suami bisa menjadi cermin kepada istri tanpa menafikan kelemahannya. Ibu menjadi cahaya bagi anaknya walaupun dirinya tidak berpelajaran tapi jiwanya cukup arif membagi cinta.
Guru menjadi penyelamat anak yang bodoh, lembab dan bingung sehingga mereka menemukan jalan terang meskipun guru juga memiliki kekurangan pribadi tetapi jangan disangkal mereka sebenarnya paling berpengaruh mewujudkan cita-cita setiap insan.
Siapapun yang berjasa, berbuat baik dan berhasil mereka tidak terlepas dari cacat cela. Tetapi untuk apa mempertanyakan yang negatif jika yang positif itu mampu menghapus yang negatif? Tidak ada insan sempurna, berilah kesempatan kepada siapapun di sekitar kita untuk menjadi sumber inspirasi dalam hidup.
Jika kita sudah mengambil manfaat dari kelebihan orang lain, bagaimana pula membuat keburukan dan aib mereka sebagai perbatasan?
Seorang Muslim bukanlah mereka yang memilih untuk diam saat melihat kemungkaran terjadi di sekeliling mereka. Mereka bukan orang yang penakut, takut menyatakan yang salah itu salah dan yang benar itulah hakikatnya.
Mereka tidak takut menyuarakan jalan inilah yang Allah reda dan jalan itu sebaliknya.Seorang Muslim berkewajiban memandang, menilai dan menasihati saudaranya jika berbuat silap seperti klaim agama yang ingin amar makruf dan nahi munkar ditegakkan.
Bila melihat aib orang lain, berusaha membantu diri sendiri kemudian orang lain ke arah kebaikan. Langkah pertama adalah pastikan diri kita sudah berada di jalan yang benar, lurus dan diridai Allah kemudian barulah kita dapat menuntun tangan saudara kita ke sana.
Apa yang disampaikan harus diamalkan terlebih dulu. Lidah, hati dan amal perbuatan harus sejalan, sehati dan sejiwa langsung tidak unsur munafik. Prinsip amar makruf nahi munkar yang benar adalah buat dulu kemudian suruh orang lain.
Allah sangat membenci perangai orang yang cakap tidak serupa amal ini dalam firman-Nya yang berarti:
"Wahai orang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. "(Surah al-Shaff, ayat 2-3)
Ada pula yang bermulut manis dan menyatakan pujian di hadapan saudaranya tapi di belakang mengata lain, bermuka-muka dan menikam dari belakang. Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
"Jika kamu melihat orang yang suka memuji (mengampu) di hadapan kamu, maka taburkanlah debu tanah di mukanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Baik setiap Muslim berhati-hati dengan pemuji yang ekstrim ini karena mereka akan mencela dengan ekstrim juga.
Menggunakan ayat penuh rahmat bukan ayat vulgar dan menyimpan emosi negatif.Mengapa nasihat yang kita berikan kepada istri, anak dan saudara kita tidak berhasil? Penyebabnya karena tidak hubungan kasih sayang karena Allah.
Metode dan cara menasihat pun tidak menurut petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Selain itu, faktor emosi yang susah dikendalikan sehingga melahirkan nasihat berunsur kemarahan, kritik pedas dan sindiran tajam menjadi penghalang keikhlasan dalam memberi nasihat.
Nyata begitu susahnya bergaul dengan manusia di sekeliling kita. Bukan hanya kesabaran dituntut tetapi keberanian untuk merasakan sakit juga diperlukan dalam menjalin persaudaraan. Mungkin itulah sebabnya mengapa banyak memilih menyendiri dan tidak pedulikan orang lain. Tetapi sampai bila kita dapat bertahan?Pastinya yang terbaik adalah mencari kekuatan diri dalam persaudaraan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Orang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih baik dari orang mukmin yang tidak bergaul dan tidak bersabar atas gangguan mereka." (HR. Al-Bukhari)
Adaptasi adalah suatu proses membentuk rasa cinta dan kasih sayang. Barang siapa yang tidak sabar melaluinya dia tidak akan merasakan kenikmatan menjalin hubungan sesama insan. Waspadalah dengan sikap antisosial. Ia dapat mencegah seseorang mendapat rahmat Allah. Adapun tanda seseorang mendapat rahmat-Nya adalah ketika manusia tertarik dengan kepribadiannya

No comments:

Post a Comment