Disebutkan bahwa apabila manusia tidak memiliki angan-angan,
maka tiada orang berjalan di jalan-jalan. Tiada pasar didirikan di tengah kota.
Angan-angan inilah yang membuat manusia bersedia untuk hidup di dunia ini. Sekiranya tidak ada angan-angan maka seorang manusia tidak akan mau hidup di dunia.
maka tiada orang berjalan di jalan-jalan. Tiada pasar didirikan di tengah kota.
Angan-angan inilah yang membuat manusia bersedia untuk hidup di dunia ini. Sekiranya tidak ada angan-angan maka seorang manusia tidak akan mau hidup di dunia.
Seorang shalih pernah berdoa kepada Allah agar dihilangkan angan-angan dari dirinya. Maka ia tidak memiliki sedikitpun keinginan untuk makan dan minum. Dan ketika ia berdoa agar dikembalikan angan-angan kepada dirinya, maka muncul kembali keinginannya untuk makan.
Panjang angan-angan adalah suatu hal yang amat dikuatirkan oleh Rasulullah Saw terjangkit diummatnya. Panjang angan-angan hanya dapat dikendalikan dengan upaya kita untuk ‘mengingat mati’.
Karena manakala seorang mengingat akan mati, maka dari dirinya akan muncul kekuatan untuk ‘memotong’ hal-hal yang tiada perlu untuk dilakukan (sia-sia). Sementara Allah berkata; bahwa ciri seorang
al-mukminuun adalah mereka yang tiada melakukan hal yang sia-sia (QS 23:3).
Karena manakala seorang mengingat akan mati, maka dari dirinya akan muncul kekuatan untuk ‘memotong’ hal-hal yang tiada perlu untuk dilakukan (sia-sia). Sementara Allah berkata; bahwa ciri seorang
al-mukminuun adalah mereka yang tiada melakukan hal yang sia-sia (QS 23:3).
Mungkin inilah sehingga Rasulullah Saw banyak menyarankan kita untuk “mengingat mati”, agar kita semua terjaga dari hal-hal yang sia-sia. Agar kita semua betul-betul memantau segala aktivitas kita dari hal-hal yang merusak dan mengupayakan hal-hal yang shalih. Semoga Allah memberikan kepada kita rahmat-Nya.
No comments:
Post a Comment